Sabtu, 2 April 2011 adalah jadwal pulang kampung. Karena ada janji dengan teman-teman, akhirnya jadwal pulangku mundur sampai jam tiga sore. Aku naik lyn dengan pikiran was-was. Kalau pulang dari Surabaya sudah sore begitu, bisa-bisa sampai di rumah malam. Beruntung kalau masih ada colt terakhir yang naik gunung ke kampungku, kalau tidak aku bisa-bisa naik ojek sendirian.
Jam setengah empat kurang sekian menit. Sampai di perempatan Bratang aku sudah gelisah. Kalau bis kotanya sudah berangkat, bisa-bisa aku harus nunggu antrian setengah jam lagi! Itu berarti setengah jam terbuang percuma. Padahal aku paling tidak harus sampai di terminal pandaan maghrib, supaya aku tidak naik ojek.
Benar saja dugaanku, sampai di perempatan dekat terminal Bratang aku melihat bis kota sudah keluar dari terminal Bratang. Padahal, lyn yang aku tumpangi harus berputar dulu untuk masuk terminal. Bisa-bisa benar harus antri setengah jam ini!
Begitu lyn sampai di teminal, bis sudah tidak kelihatan ekornya lagi. Aku pasrah, mau mengejar mana mungkin hujan-hujan begini, pakai gamis lagi, bawa tas dua lagi! Akhirnya aku masuk ke bis yang masih kosong melompong di tengah terminal. Cuma ada sopir berseragam biru di sana.
“Berangkatnya masih setengah jam lagi ya, Pak?” tanyaku mengusir kecewa. Mungkin sopir itu berpikiran sudah tau nanya!. Ia Cuma diam sambil meletakkan ponselnya di telinga, seperti hendak menelpon.
Huh! Kesalnya dicuekin begitu, aku akhirnya turun lagi. Mendingan aku coba mngejar bis daripada harus menunggu di bis ini. Aku mengambil langkah cepat keluar terminal. Bapak-bapak tukang becak menanyaiku.
“Mbak, mau kemana?”
“Mau ngejar bis, Mbak? Nggak akan sampai!”
“Naik lyn saya aja, Mbak!”
Wuih, ramai sekali. “Sudah jauh ya, Pak?” tanyaku.
“Masih kelihatan, Mbak. Tapi nggak akan keburu! Sudah jauh....” kata mereka.
Entah apa yang ada di otakku, aku terus saja melangkah. Masih kelihatan ini. Dalam hati aku berdoa, semoga bisnya kena lampu merah di perempatan. Aku sudah tidak brjalan cepat lagi, tapi berlari. Hujan-hujan, nggak pakai payung, bawa tas dua, lari-lari ditengah jalan pula!. Untung jalanan sedang sepi karena hujan. Jadi persis seperti adegan di sinetron, lari mengejar bis! Hahaha.
Sama sekali tak pernah terpikir aku bakalan beradengan seperti itu. Aku jarang sekali punya tekad menerobos hujan tanpa payung seperti itu. Sempat terpikir, jangan-jangan orang-orang akan tertawa melihat gadis bergamis lari di tengah hujan seperti itu. Tapi daripada nunggu setengah jam, lagian nggak kenal ini! Hehehe... Suara bapak-bapak tukang becak masih terdengar. “Nggak akan kekejar, Mbak!”. Tapi aku cuek beybeh, kalau sampai nanti nggak kekejar, aku nunggu bis di perempatan aja. Kan malu, hehehe....
Aku terus lari sambil berdoa. Bis kota itu benar-benar kena lampu merah. Tapi siapa yang menjamin lampu merah itu masih lama? Aku terus lari, lari, dan lari. Sampai akhirnya berhasil! Aku berhasil sampai di bis kota itu. Tapi ternyata, penuh!
“Pak, masih ada tempat?” aku bertanya sambil mengatur nafasku yang tersengal-sengal.
“Ada, Mbak. Berdiri di dalam,” sahut salah satu penumpang. Aku langsung naik. Alhamdulillah, penuh syukur aku mengucapkannya walau dalam hati. Beberapa orang yang melihat nafasku kembang kempis memandang heran. Tapi aku berusaha cuek saja, yang penting perjuanganku berhasil!
Benar, Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang mau berjuang keras. Jadi teruslah berjuang walaupun banyak orang yang mencemooh. Tetap semangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar