Senin, 25 April 2011

Pagi Ini


Semburat jingga kemerahan
Beradu indah dengan warna langit yang masih kelabu
Bulan masih separuh
Bintang pun hanya tersisa satu yang paling terang
Warna-warni lampu berpadu semarak dengan langit subuh
Udaranya masih terasa jernih
Sejernih gemericik air yang mengalir di kaki gunung
Pagi ini semua mengantarku dengan senyuman
Pergi untuk untuk mengisi sebuah harapan

Kamis, 21 April 2011

amarah

bukan aku marah karena ingin meluapkan amarah
tapi karena ingin membangun cerah
amarah itu hanya untuk menunjukkan ada sebuah celah
dengannya cahaya masih bisa kau rasakan

Senin, 18 April 2011

Berharap

Berharap pagi ini ada bintang
yang mengerjap tuk memberi senyuman
atas semua luka yang terbuat
aku menyesal

Aku masih berharap ada bulan
yang datang untuk menghiasi malam
bersinar penuh untuk nanti malam
aku maafkan

so surprise for this idea!

Dengan Warna yang Kupunya

Aku dengan segala lemah dan kurangku
Kupikir kau sudah sangat memahami itu
Ternyata aku salah…
Aku yakin ada yang terjadi padamu
Dengan sebuah doa kutitipkan Engkau padaNya
Biarlah Dia yang menjagaMu dengan segala yang aku tak tahu
Mungkin juga ini caraNya mencintai aku
Walaupun memang terasa sangat sakit rasa ini
Dan sakit ini tak bisa kubagi kecuali hanya denganNya
Aku akan berusaha menyunggingkan sebuah senyum
Bukan untuk berpura-pura bahagia
Tapi ingin kucerahkan dunia dengan warna yang kupunya         
Hanya dengan warna cinta dan suka cita
Karena itulah yang akan menghapus kecewa yang tersisa

Minggu, 17 April 2011

Terjaga oleh Setia

Hidup telah mengajariku banyak hal
Bahwa sebuah cinta akan terjaga oleh setia
Rasa sayang akan membuat kita bertahan dalam lara
Walau memang banyak yang begitu indah
Dan hati pun kadang menjadi gundah karena bimbangnya
Tapi ketulusan sebuah cinta akan menjaga semua tetap di tempatnya
Bertahan dengan segala aral yang ada
Berdiri menghadang dengan penuh perkasa

Sepi tak selamanya mengikis setia
Bahkan ia menguatkan dengan lantunan doa
Ialah mereka yang setia dengan  cinta…

Rabu, 13 April 2011

Walau tak seperti bintang

Mungkin tak bisa seindah bintang
yg gemerlap sinarnya membuat hati tenang
walau gelap membayang ia tak pernah gentar
tetap bertahan dg kerlipnya yg menggemaskan..

Mungkin tak seteguh bintang
yg selalu setia menemani rembulan setiap malam
bersama menerangi gelap dg cahaya
memberi secercah sinar tuk menghiasi dunia
menyajikan pesona untuk manusia
dan menggambarkan sebuah asa yg slalu ada..

Mungkin tak sekilau bintang
yg dg terang kecilnya ia slalu ada
menjadikan sebuah senyum tersungging indah
menenangkan tiap hati yg tengah gundah
dan menciptakan sukacita tuk siapapun yg memandangnya..

Walau mungkin tak bisa seperti bintang
karna ia terlalu indah..
tapi aku ingin menjadi satu saja kerlip cahaya
yg senantiasa ada di harimu..

For all of my friends : moga bisa jadi satu kerlip di harimu ^_^

Suatu hari di terminal


Sabtu, 2 April 2011 adalah jadwal pulang kampung. Karena ada janji dengan teman-teman, akhirnya jadwal pulangku mundur sampai jam tiga sore. Aku naik lyn dengan pikiran was-was. Kalau pulang dari Surabaya sudah sore begitu, bisa-bisa sampai di rumah malam. Beruntung kalau masih ada colt terakhir yang naik gunung ke kampungku, kalau tidak aku bisa-bisa naik ojek sendirian.
Jam setengah empat kurang sekian menit. Sampai di perempatan Bratang aku sudah gelisah. Kalau bis kotanya sudah berangkat, bisa-bisa aku harus nunggu antrian setengah jam lagi! Itu berarti setengah jam terbuang percuma. Padahal aku paling tidak harus sampai di terminal pandaan maghrib, supaya aku tidak naik ojek.
Benar saja dugaanku, sampai di perempatan dekat terminal Bratang aku melihat bis kota sudah keluar dari terminal Bratang. Padahal, lyn yang aku tumpangi harus berputar dulu untuk masuk terminal. Bisa-bisa benar harus antri setengah jam ini!
Begitu lyn sampai di teminal, bis sudah tidak kelihatan ekornya lagi. Aku pasrah, mau mengejar mana mungkin hujan-hujan begini, pakai gamis lagi, bawa tas dua lagi! Akhirnya aku masuk ke bis yang masih kosong melompong di tengah terminal. Cuma ada sopir berseragam biru di sana.
“Berangkatnya masih setengah jam lagi ya, Pak?” tanyaku mengusir kecewa. Mungkin sopir itu berpikiran sudah tau nanya!. Ia Cuma diam sambil meletakkan ponselnya di telinga, seperti hendak menelpon.
Huh! Kesalnya dicuekin begitu, aku akhirnya turun lagi. Mendingan aku coba mngejar bis daripada harus menunggu di bis ini. Aku mengambil langkah cepat keluar terminal. Bapak-bapak tukang becak menanyaiku.
“Mbak, mau kemana?”
“Mau ngejar bis, Mbak? Nggak akan sampai!”
“Naik lyn saya aja, Mbak!”
Wuih, ramai sekali. “Sudah jauh ya, Pak?” tanyaku.
“Masih kelihatan, Mbak. Tapi nggak akan keburu! Sudah jauh....” kata mereka.
Entah apa yang ada di otakku, aku terus saja melangkah. Masih kelihatan ini. Dalam hati aku berdoa, semoga bisnya kena lampu merah di perempatan. Aku sudah tidak brjalan cepat lagi, tapi berlari. Hujan-hujan, nggak pakai payung, bawa tas dua, lari-lari ditengah jalan pula!. Untung jalanan sedang sepi karena hujan. Jadi persis seperti adegan di sinetron, lari mengejar bis! Hahaha.
Sama sekali tak pernah terpikir aku bakalan beradengan seperti itu. Aku jarang sekali punya tekad menerobos hujan tanpa payung seperti itu. Sempat terpikir, jangan-jangan orang-orang akan tertawa melihat gadis bergamis lari di tengah hujan seperti itu. Tapi daripada nunggu setengah jam, lagian nggak kenal ini! Hehehe... Suara bapak-bapak tukang becak masih terdengar. “Nggak akan kekejar, Mbak!”. Tapi aku cuek beybeh, kalau sampai nanti nggak kekejar, aku nunggu bis di perempatan aja. Kan malu, hehehe....
Aku terus lari sambil berdoa. Bis kota itu benar-benar kena lampu merah. Tapi siapa yang menjamin lampu merah itu masih lama? Aku terus lari, lari, dan lari. Sampai akhirnya berhasil! Aku berhasil sampai di bis kota itu. Tapi ternyata, penuh!
“Pak, masih ada tempat?” aku bertanya sambil mengatur nafasku yang tersengal-sengal.
“Ada, Mbak. Berdiri di dalam,” sahut salah satu penumpang. Aku langsung naik. Alhamdulillah, penuh syukur aku mengucapkannya walau dalam hati. Beberapa orang yang melihat nafasku kembang kempis memandang heran. Tapi aku berusaha cuek saja, yang penting perjuanganku berhasil!
Benar, Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang mau berjuang keras. Jadi teruslah berjuang walaupun banyak orang yang mencemooh. Tetap semangat!

Karena DIA Maha Penyayang

Diri ini slalu datang padaMU dgn pinta
mengais belas kasihMU yg tak terbatas
mengadukan sgala beban yg memenuhi dada
mencurahkan setiap kesah dg sebuah asa dan air mata
membawa semua ketidakberdayaan utk memohon kehendakMU

Hamba belum suci benar
masih byk debu yg tersisa dlm diri yg hina ini
masih jauh hati kami dari mencintaiMU dg cinta tertinggi

Tapi karena Engkau Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
dan memang hanya Engkau Yang Maha Penyayang
Engkau membalas doa demi doa yg pernah terpanjat
Engkau tunjukkan kuasaMu dg bijaksana
tak peduli hambaMu hanyalah seorang yg hina
dan hambapun hanya bisa tersungkur memujiMU
tertunduk malu karna pernah meragu atas segala jawabMU
Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan?

Selasa, 12 April 2011

Aku dan Rahasia


Andai aku bisa berucap kata dan bicara
Aku sangat ingin kau tahu
Setiap yang kurasa telah menjadi karya
Kusimpan dalam diam dan luka
Kurangkai dengan kata setiap kecewa
Dan tak henti berharap suatu hari nanti
Lembaran ini akan kaubaca

Bilakah hari itu tiba?
Dan benarkah akan tiba?
Atau akan tetap menjadi sebuah karya rahasia
Antara aku denganNya

Aku tak pernah ingin menjadi yang tak bisa untukmu
Tapi inilah aku selama DIA masih belum berkehendak apa-apa
Aku dengan segala keterbatasanku untukmu
Aku dengan segala rahasia yang kusimpan rapat
Aku dalam diam dan doa…
Dan kumohon mengertilah aku

Jumat, 08 April 2011

Tersenyum


Senyum. Bukan sesuatu yang asing untuk kita. Sesuatu yang nampaknya sepele tapi ternyata luar biasa. Maka benar sekali jika “senyum pada saudaramu adalah sedekah”. Karena senyum bukan sekedar melengkungkan bibir kita. Ada rahasia besar di balik sebuah senyum yang tulus.
Tersenyum mungkin mudah. Tapi tersenyum pada orang yang kita jengkel padanya, itu luar biasa. Ada perjuangan di sana. Walaupun mungkin saat tersenyum akan terasa senyum kita pura-pura, kecut, tidak tulus atau perasaan negatif lainnya. Walaupun saat akan memulai untuk tersenyum kita merasa berat, gengsi atau malu. Tapi percayalah, efek baiknya akan jauh lebih besar daripada kita memutuskan untuk tidak tersenyum. Anda tidak percaya? Silakan mencoba ^_^  dan Anda akan merasakannya.

Selasa, 05 April 2011

Kehilangan waktu

menghitung setiap detik yang berlalu
agar tidak ada makna yang terlewatkan sedikitpun
kehilangan waktu adalah kerugian
apalagi jika waktu itu diridhoiNya
untuk berbuat kebaikan, saling menasihati karenaNya
apalagi jika waktu itu untuk memanjatkan pinta padaNya
mengeluhkan kesah dan gundah yang tersisa
apalagi jika waktu itu dijanjikanNya
setiap doa akan dikabulkanNya

Jumat, 01 April 2011

Go home

Pulang...
Bukan sekedar ingin melepas kerinduan pada ayah bunda
Juga kampung halaman
Tapi juga ingin menunjukkan sebuah bakti & kasih sayang
Yang mungkin tak bisa selamanya kita berikan
Atau bahkan mungkin terlupakan
Karna walaupun berharap
Keduanya tak pernah menuntut kita selalu hadir
Tapi hatinya selalu mendoakan tulus
Untuk kita, anak-anaknya...
Satu yang ingin kukatakan
I'm home...