Mensyukuri Bumi
Pagi ini saat mata kembali mengerjap
Sudahkah mensyukurinya?
Bersyukur masih bisa melihat pagi
Kembali berpijak di bumi selepas bermimpi
Sudahkah mensyukurinya?
Bersyukur masih bisa melihat pagi
Kembali berpijak di bumi selepas bermimpi
Kembali ke bumi berarti menikmati lagi
Menikmati kasihNya yang tak terbilang
Saat segarnya udara mengisi rongga dada
Tanpa kita meminta dalam doa
Menikmati kasihNya yang tak terbilang
Saat segarnya udara mengisi rongga dada
Tanpa kita meminta dalam doa
Sejuk embun tersisa di ujung daun
Semilir angin yang membelai sepoi-sepoi
Sapaan hangat sinar mentari
Gelayut manja awan berwarna kelabu
Semilir angin yang membelai sepoi-sepoi
Sapaan hangat sinar mentari
Gelayut manja awan berwarna kelabu
Guyuran hujan yang menenteramkan
Pelukan mesra belahan jiwa
Celoteh konyol buah hati kita
Senyum tulus seorang sahabat
Pelukan mesra belahan jiwa
Celoteh konyol buah hati kita
Senyum tulus seorang sahabat
Sudah hanya itukah?
Sudahkah tunaikah menghitungnya?
Sanggupkah menuliskannya?
Bahkan itu pun kita tak akan mampu
Sudahkah tunaikah menghitungnya?
Sanggupkah menuliskannya?
Bahkan itu pun kita tak akan mampu
Ternyata baru sebatas menikmati
Tak sanggup menuliskan angka
Sama sekali tak punya kuasa
Masih pantaskah ada pongah di dada?
Tak sanggup menuliskan angka
Sama sekali tak punya kuasa
Masih pantaskah ada pongah di dada?
Kadang baru terasa saat nikmat tiada
Terasa duka saat disapa luka
Baru berdoa saat lara mendera
Terhenyak saat terkoyak asa
Terasa duka saat disapa luka
Baru berdoa saat lara mendera
Terhenyak saat terkoyak asa
Dan mengibalah seorang hamba
Manusia papa yang tak punya apa-apa
Insan hina yang berumur dosa
Bersandar pada kemurahanNya
Manusia papa yang tak punya apa-apa
Insan hina yang berumur dosa
Bersandar pada kemurahanNya
Surabaya, 20 November 2017
#puisi
#EmakBelajarNulis
#puisi
#EmakBelajarNulis